Showing posts with label puisikeren. Show all posts
Showing posts with label puisikeren. Show all posts

Tuesday, February 2, 2016

SESAL



Eifell masih menyimpan waktu yang kita tulis bersama
Diujung menara itu
terikat janji
tapi kau menguburnya seketika

Saat cerita di ubun-ubun
aku sesak di paru-paru
mengucap cinta dipangkal lidah
sesali dirimu yang berganti

Terus bercumbu dengan kumbang
sampai masa jadi silam
hanya sesal yang mendalam

Semua jadi sia-sia
Terhambur hati bagai kapas
Terbawa angin keujung dunia
Tidak pernah kembali
Karna tidak tahu arah

TERPENDAM



Gontai aku melangkah
Meniti detik dan setiap perputaran
Menghela nafas berulang-ulang
Sepanjang garis sepi sahara
Panas dan kering meradang didada
Kau terjatuh diatas dipan
Dipan milik tetangga
Yang begitu aku benci
Mengapa kau tidak jatuh didipanku

DIPERAPIAN



Diperapian
api tak cukup terangi lubang hati
Jika matahari padam
seperti saat malam tanpa rembulan
Kemana hati kan membawa
Disitu ku akan hidup sendiri

Biarlah sepi menjadi kawan
Dan memberi nama pada kesendirian

Dibait terakhir puisiku
yang kutitip pada tangan manis bundamu
kuucapkan kata maaf atas kepergianku
aku tidak bisa mencintaimu seperti yang kau mau

Di perapian
Kutulis nama-nama termasuk namamu dan kulempar kedalamnya
Aku ingin melupakanmu dan semua yang pernah menjalin cinta denganku

KEMATIAN



Ini masih tentang kau
yang berjalan direl kereta
meneliti setiap perjalanan
mencari kematian

            ‘Sia-sia
            tanpa arti
            kau tak akan mengerti
            meski kau pecahkan dengan ribuan angka-angka’

Setiap hari kau datang dan pergi
mengambil sampel
dan membawanya keruang tamumu, mengutak-atiknya
atau meseum-museum
mencocokkannya dengan lukisan-lukisan kuno atau  rumus bintang-bintang

Mengapa kau tidak mengerti jua?

Sudahlah
Akhiri dan pergilah bersamaku

Direl kereta
kau tersedu-sedu
katamu hari ini hari kematianku

KANAK-KANAK



Aku ingin kembali
seperti kanak-kanak
Saat kau dan aku  pertama kali jatuh cinta
Kita mengais-ngais rasa sayang
Dibawah jembatan gantung
Pertama kali kucumbu bibirmu mesra
Walau rasa itu dipertanyakan
Cinta atau nafsu remaja belaka

Dengan warna gemerlapan
bulan, jalan raya dan kendaraan yang berlalu lalang
menembus raga dan membakar gairah
Kita telanjang dan saling memandangi diri
dengan alasan kesetiaan
Kita memulai percintaan yang asing
yang begitu menggairahkan

Saat hendak kucumbu bibirmu
Saat jemariku mulai nakal meraba punggungmu
Angin tersedu
Aku tersentak
Waktu begitu dingin
menjalar persendian
Kulempar kembali pakaianmu
Kupasang pelan-pelan
Sembari memenjarakan birahiku
Tepat ditanah pijakan lututku

Seperti seorang pendekar dimedan perang
Waktu adalah keniscayaan dan tak pernah renta
Pedang terus dihunus dan tak pernah menyerah
Kita mengikis-ngikis kehidupan
Memainkan kecemasan
Melawan sepi bersimbiosis dengan ruang
Masa kanak-kanak berakhir setelah itu
Kau dan aku tak memiliki kisah lagi

Malam terus larut
Nyanyian surgawi seruling firdaus makin melenting
menyayat pesakitan
Rindu tetaplah rindu butuh pengobatan
Mungkinkah ada jalan pertemuan?

Masa kanak-kanak manis tapi berakhir juga
Aku hanya mengenang kembali
Ciuman bibirmu
yang belum usai dikecup bibirku