Showing posts with label puisi patahhati. Show all posts
Showing posts with label puisi patahhati. Show all posts

Tuesday, February 2, 2016

MIMPI



Kau terbahak menyeka cemas
mengartikan logika adalah keahlianmu
Kadang kau menjelma filsuf
mengartikan cinta sebagai kebebasan
Terkadang  pula kau menjelma sastrawan
berucap cinta menggetarkan hati
tapi kau lebih sering menjelma jendela
disitu aku betengker melihat seluruh dunia

Waktu berakhir disudut senjamu
bersama tawa yang hampir habis
meski tanpa oksigen
kau bernafas dengan rumus-rumus
meski tanpa hemoglobin
kau berdetak dengan huruf-huruf

Mengejar detik per sekon
Berlari terus ke impianmu
Kau tahu pasti kemana hatimu akan berlabuh
meski ada rasa khawatir
Kalau-kalau mimpi berakhir diujung malam

Kau berkelabat di setiap buku-buku
Bermain dengan zat-zat kimia
Menguji bermacam hipotesis
Kau bersimbiosis dengan matahari dan melakukan fotosintesis
Hanya kau yang berani melakukan perjanjian dengan matematika
Hanya kau yang berani menunjuk berjuta bintang dan menulisnya di atas mimbar
Kaupun mengutuk kegelapan bersama ribuan kecurangan
Aku salut padamu
Sekaligus iri
Iri sekali

Kau mengejar mimpi keutara sampai ke selatan
Tak peduli timur dan barat
Perempatan atau pertigaan
Kau tahu segalanya
Kau luar biasa

Sambil duduk diatas meja
Aku mengeja cinta dan nakal memikirkan hatimu
Adakah aku sebagai bagian dari cita-citamu?

       




KANAK-KANAK



Aku ingin kembali
seperti kanak-kanak
Saat kau dan aku  pertama kali jatuh cinta
Kita mengais-ngais rasa sayang
Dibawah jembatan gantung
Pertama kali kucumbu bibirmu mesra
Walau rasa itu dipertanyakan
Cinta atau nafsu remaja belaka

Dengan warna gemerlapan
bulan, jalan raya dan kendaraan yang berlalu lalang
menembus raga dan membakar gairah
Kita telanjang dan saling memandangi diri
dengan alasan kesetiaan
Kita memulai percintaan yang asing
yang begitu menggairahkan

Saat hendak kucumbu bibirmu
Saat jemariku mulai nakal meraba punggungmu
Angin tersedu
Aku tersentak
Waktu begitu dingin
menjalar persendian
Kulempar kembali pakaianmu
Kupasang pelan-pelan
Sembari memenjarakan birahiku
Tepat ditanah pijakan lututku

Seperti seorang pendekar dimedan perang
Waktu adalah keniscayaan dan tak pernah renta
Pedang terus dihunus dan tak pernah menyerah
Kita mengikis-ngikis kehidupan
Memainkan kecemasan
Melawan sepi bersimbiosis dengan ruang
Masa kanak-kanak berakhir setelah itu
Kau dan aku tak memiliki kisah lagi

Malam terus larut
Nyanyian surgawi seruling firdaus makin melenting
menyayat pesakitan
Rindu tetaplah rindu butuh pengobatan
Mungkinkah ada jalan pertemuan?

Masa kanak-kanak manis tapi berakhir juga
Aku hanya mengenang kembali
Ciuman bibirmu
yang belum usai dikecup bibirku

SETIAKU



Embun masih saja resah
memikirkan kau yang terus saja terdiam
Sayang, berapa kali kuharus katakan, setiaku

Malam diam-diam beranjak dari perapian
mengusir keraguan tapi keraguan yang kau pasang begitu kuat
Jika cintaku memang meragukanmu, mungkin itu memang salahku
tapi biarkan aku menjelaskan jejak dan sajak yang kau sangka aku berkhianat di dalamnya

Pagi gemetar merayu mentari untuk kembali
Apakah kau tahu? Aku membutuhkanmu melebihi diriku sendiri
Jika kau masih saja meragukanku, biarlah
Aku akan diam sama seperti diammu
sambil menanti rembulan yang sama saat kau jatuh cinta padaku
Lihatlah kembali bagaimana aku mencintaimu
Tidak ada kepalsuan apalagi dusta didalamnya
Jika itu masih belum cukup
Belahlah dadaku

Aku kesepian
Dibawah rerimbunan gunung-gunung aku terlentang kesakitan
Dibatas senja antara jingga dan purnama
Kau sulam namaku bertaut namamu
Sampai sekarang kusimpan itu

Sayangku, ini sajak pengakuan setiaku

RINDU



Persimpangan kekiri kemudian kekanan
bermuara di oase dan oase lagi
Aku lelah terus begini
bayang-bayangmu berlabuh disetiap purnama
Aku mencarimu disetip batas senja
berharap kutemukan kau
sesaat sebelum berlayar kembali mengarungi samudra jauh

Matahari tak mampu mengganti rinduku meski ia datang ribuan kali
Bintang-bintang tak cukup mengurangi cemasku meski kau mengirimnya sepanjang waktu

Perasaanku teramat dalam
Kau membawa seluruh hatiku
Lalu bagaimana kau bisa berfikir aku bisa tenang dengan semua itu?

Berlabuhlah dihatiku kembali
seperti saat dulu
saat-saat kita menyusuri pantai
menikmati senja dan warna jingga
juga aroma daun-daun kering
Kita bisa kembali
menggali rasa menembus ruang dan waktu
bersemayang di atas awan
bercengkrama sampai pagi
Ada banyak bintang yang bisa kita raih
hanya dengan berucap dan saling menguatkan
Ayo kita lakukan lagi
sebagai kekasih
sambil terus berbisik kata-kata cinta
yang menggetarkan hati
Berlabulah di hatiku lagi


Jangan menyiksaku seperti ini

Aku menantimu dari pantai kepantai
dari senja ke senja berikutnya
Aku tak ingin matahari membakar rinduku ini
kemudian hampa
Aku memang tak bisa paksamu
Demi cintaku yang kau bawa, kembalilah!
Demi cintaku yang kau bawa, kembalilah!
Setidaknya kembali dan jelaskan semua padaku
perihat cintamu dan cintaku
jika saat itu kau ingin pergi lagi
aku tak akan menahanmu
asalkan kau kembalikan sebagian hatiku