Showing posts with label puisi sakit hati. Show all posts
Showing posts with label puisi sakit hati. Show all posts

Tuesday, February 2, 2016

SETIAKU



Embun masih saja resah
memikirkan kau yang terus saja terdiam
Sayang, berapa kali kuharus katakan, setiaku

Malam diam-diam beranjak dari perapian
mengusir keraguan tapi keraguan yang kau pasang begitu kuat
Jika cintaku memang meragukanmu, mungkin itu memang salahku
tapi biarkan aku menjelaskan jejak dan sajak yang kau sangka aku berkhianat di dalamnya

Pagi gemetar merayu mentari untuk kembali
Apakah kau tahu? Aku membutuhkanmu melebihi diriku sendiri
Jika kau masih saja meragukanku, biarlah
Aku akan diam sama seperti diammu
sambil menanti rembulan yang sama saat kau jatuh cinta padaku
Lihatlah kembali bagaimana aku mencintaimu
Tidak ada kepalsuan apalagi dusta didalamnya
Jika itu masih belum cukup
Belahlah dadaku

Aku kesepian
Dibawah rerimbunan gunung-gunung aku terlentang kesakitan
Dibatas senja antara jingga dan purnama
Kau sulam namaku bertaut namamu
Sampai sekarang kusimpan itu

Sayangku, ini sajak pengakuan setiaku

RINDU



Persimpangan kekiri kemudian kekanan
bermuara di oase dan oase lagi
Aku lelah terus begini
bayang-bayangmu berlabuh disetiap purnama
Aku mencarimu disetip batas senja
berharap kutemukan kau
sesaat sebelum berlayar kembali mengarungi samudra jauh

Matahari tak mampu mengganti rinduku meski ia datang ribuan kali
Bintang-bintang tak cukup mengurangi cemasku meski kau mengirimnya sepanjang waktu

Perasaanku teramat dalam
Kau membawa seluruh hatiku
Lalu bagaimana kau bisa berfikir aku bisa tenang dengan semua itu?

Berlabuhlah dihatiku kembali
seperti saat dulu
saat-saat kita menyusuri pantai
menikmati senja dan warna jingga
juga aroma daun-daun kering
Kita bisa kembali
menggali rasa menembus ruang dan waktu
bersemayang di atas awan
bercengkrama sampai pagi
Ada banyak bintang yang bisa kita raih
hanya dengan berucap dan saling menguatkan
Ayo kita lakukan lagi
sebagai kekasih
sambil terus berbisik kata-kata cinta
yang menggetarkan hati
Berlabulah di hatiku lagi


Jangan menyiksaku seperti ini

Aku menantimu dari pantai kepantai
dari senja ke senja berikutnya
Aku tak ingin matahari membakar rinduku ini
kemudian hampa
Aku memang tak bisa paksamu
Demi cintaku yang kau bawa, kembalilah!
Demi cintaku yang kau bawa, kembalilah!
Setidaknya kembali dan jelaskan semua padaku
perihat cintamu dan cintaku
jika saat itu kau ingin pergi lagi
aku tak akan menahanmu
asalkan kau kembalikan sebagian hatiku
 

BUDAK CINTA



Kau mengutukku jadi Kristal
lalu kau pajang diruang tamu
membiarkan orang-orang memandangku
Kaupun dengan bangga berkata
‘’dia adalah budak cintaku’’
Sambil menunjuk kearah batang hidungku

Aku tak bisa melakukan apa-apa
kecuali memandang kau berlalu-lalang seperti metromini
Kadang kau berhenti dihadapanku dan menanyakan ‘’mau kemana mas?’’
kemudian kau tertawa terbahak-bahak

Ribuan tahun aku tetap jadi kristal diruang tamumu
dan kau tetap jadi metromini yang terbahak-bahak dihadapanku
Aku ataukah kau
yang jadi budak cinta?

SIAPA



Musim semi menyeruak menyebar kerinduan
Sendiri mengucap cinta
Kekasih entah siapa

Disenja sore
Saat langit belajar jadi jingga
Kau tidak lagi tersenyum
Ternyata kau lebih suka siang dari pada malam
Sementara aku melankolis yang lebih suka malam tanpa kupu-kupu dan warnanya

Musim gugur kembali tiba-tiba
Menyingkap tentangmu lagi
Kau tetap tak tersenyum
Ternyata kau sang perfeksionis yang lebih suka bunga-bunga bermekaran
Sementara aku sang penikmat gairah daun-daun berguguran

O, purnama
Dimana cinta yang kau janjikan untukku